Dewan Pers Kecam Aksi Kekerasan Oknum TNI terhadap Jurnalis dalam Halmahera Selatan

Dewan Pers Kecam Aksi Kekerasan Oknum TNI terhadap Jurnalis di Halmahera Selatan

Pembaca – JAKARTA – Ketua Dewan Pers , Ninik Rahayu mengatakan, pihaknya mengecam tindakan kekerasan jurnalis oleh oknum TNI dalam Halmahera Selatan beberapa waktu lalu. Peristiwa ini telah lama dilaksanakan dialog dengan Kepala Staf TNI AL, untuk melakukan konfirmasi pelindungan terhadap korban kemudian melakukan konfirmasi proses hukum terhadap pelaku dijalankan dengan baik.

“Ini perkembangan yang tersebut patut kita kecam bersama, oleh sebab itu jurnalis adalah satu aktivitas yang baik pada rangka mencari, mengolah, sampai mendistribusikan berita adalah salah satu kerja pers yang mana harus dilindungi di konteks pemberitaan, keinginan pengamanan fisik, kemudian sebagainya,” kata Ninik di konferensi pers di tempat Gedung Dewan Pers, Jakarta, Awal Minggu (1/4/2024).

Dia pun menegaskan, apa pun bentuk keberatan terhadap pemberitaan, kata Ninik dapat diselesaikan secara etik. “Ada hak jawab yang dimaksud dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang dimaksud keberatan terhadap pemberitaan disampaikan oleh teman-teman wartawan,” ucapnya.

Selain itu, jikalau ditemukan adanya indikasi pelanggaran menghadapi kesalahan yang tersebut dialami jurnalis, lanjutnya dapat diselesaikan melalui proses hukum yang berlaku serta tak dengan kekerasan.

“Sekali pun silakan melalui proses hukum yang mana berlaku, jadi tiada melakukan tindakan-tindakan intimidasi kekerasan baik pada wartawan untuk keluarganya,” ucapnya.

Dengan demikian, sekarang pihaknya akan terus memantau korban, termasuk keluarganya serta mengawal proses hukum terhadap korban.

“Kita terus melakukan proses hukum ke depan, hak menghadapi kebenaran diungkap, kemudian pemulihan terpenuhi kemudian proses transrapan melakukan pengawalan terhadap bapak kepolisian dengan ini ditegakkan cara kita berdemokrasi dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Sebagai informasi, pribadi jurnalis dari Halmahera Selatan mengalami kekerasan oleh oknum TNI pada Kamis 28 Maret 2024. Kejadian ini bermula korban dijemput dari rumahnya oleh dua oknum prajurit TNI AL tanpa ada surat resmi, artinya diadakan dengan sewenang-wenang.

Setelah itu korban dibawa ke pos TNI AL yang digunakan berada di tempat pelabuhan area bacan selatan, Halmahera Selatan. Korban lantas diinterogasi terkait pemberitaan perihal pengangkutan BBM subsidi yang diduga milik Polairud oleh TNI AL.

Saat diinterogasi, korban sambil dipukul oleh kurang lebih banyak tiga orang oknum anggota TNI AL. Kemudian ditendang menggunakan sepatu Laras dan juga dicambuk dengan selang.